Daya Saing Perguruan Tinggi oleh Prof. Dr. Nasri Bachtiar

23 September 2017

DAYA SAING PERGURUAN TINGGI

Oleh: Prof. Dr. Nasri Bachtiar

Dari pertemuan Alumni FE-Unand di Cisarua Bogor tanggal 9-10 Maret 2013 yang lalu terungkap bahwa kemampuan Perguruan Tinggi berkontribusi dalam peningkatan daya saing bangsa hanya dapat dilakukan oleh organisasi yang sehat.  Organisasi yang sehat adalah organisasi yang memperhatikan tren perubahan mendasar yang meliputi: (a). Quality Assurance; (b). Autonomy; (c). Enterpreneurialism; dan (d). Leadership.

Quality Assurance seperti halnya akreditasi adalah merupakan kegiatan yang terinstitusi dalam bentuk prosedur standar organisasi yang melibatkan pihak luar. Autonomy adalah kebebasan menajemen untuk mengelola institusi selama tidak bertentangan dengan undang-undang. Enterpreneurialism adalah kemampuan institusi dalam pengelola dan mencari dana melalui projek-projek penelitian dan pengabdian masyarakat bekerja sama dengan dunia usaha; dan Leadership adalah kepemimpinan yang cakap dan bertanggung jawap.

Diantara semuanya itu, yang paling berperan dalam meningkatkan daya saing Perguruan Tinggi adalah kepemimpinan yang cakap dan bertanggung jawap, baik pada level Universitas maupun pada level Fakultas. Beberapa alasan yang dapat dikemukakan adalah: Pertama, pimpinanlah yang berperan mempromosikan kompetensi institusi pada masayarakat; Kedua, pimpinanlah yang mendisain sistem recruitment staf akademik dan mahasiswa baru; Ketiga, pimpinanlah yang memberikan motivasi dan kewenangan pada ketua program studi untuk mengembangkan program studinya; Keempat, pimpinanlah yang memperbaiki atmosfir akademik dan kondisi kerja, serta Kelima, pimpinanlah yang menyetukan kepentingan dan minat yang beragam dalam proses belajar mengajar..

Belum optimalnya lulusan Perguruan Tinggi terserap dalam pasar kerja terutama disebabkan oleh faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal berkaitan dengan krisis ekonomi yang belum membaik (recovery) yang membawa dampak terhadap pertumbuhan ekonomi dan kemampuan industri dan dunia usaha dalam menyerap tenaga kerja. Sementara faktor internal berkaitan dengan kurikulum yang tidak atau belum mengadopsi keperluan industri dan dunia usaha.

Dari hasil studi pelacakan alumni (traser study) terungkap bahwa kelemahan lulusan Fakultas Ekonomi dalam bersaing di pasar tenaga kerja adalah karena rendahnya inter personal skill dan intra personal skill, termasuk rendahnya kemampuan alumni dalam berkomunikasi, berorganisasi dan  mengendalikan diri.

Untuk itu, kurikulum hendaknya disusun dengan melibatkan alumni dan dunia usaha dengan memberikan penekanan kepada peningkatan yang seimbang antara kemapuan soft- skill dan hard-skill. Kepada calon alumni perlu diberikan training dan pembekalan pada materi-materi yang tidak tercover dalam kurikulum, seperti informasi mengenai dunia kerja dan kesiapan alumni untuk masuk pasar krja. Untuk membantu alumni dalam mendapatkan kerja perlu adanya pameran bursa kerja bekerja sama dengan dunia usaha dan industri.   

Read 223 times